Kabar Terkini

Sambutan Ketua Komnas Perempuan Peringatan Hari Ulang Tahun ke-28 Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan

today56 menit yang lalu
15
Okt-2026
10
0

“Merawat Perjuangan, Menyambung Gerak Lintas Generasi untuk Keadilan dan Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan” 

Jakarta, 15 Oktober 2026

Salam Indonesia yang Bhineka  

Yang Saya hormati dan banggakan, 

  1. Para Korban dan Penyintas  

  1. Perempuan Pembela HAM 

Yang terhormat,  

  1. Bapak Sufmi Dasco Ahmad – Wakil Ketua DPR RI 

  1. Bapak Willy Aditya – Ketua Komisi XIII DPR RI 

  1. Ibu Arifatul Choiri Fauzi – Menteri KemenPPPA  

  1. Bapak Achmadi – Ketua LPSK 

  1. Ibu Putu Elvina – Wakil Ketua Komnas HAM  

  1. Ibu Sylvana Maria Apituley – Komisioner KPAI 

  1. Ibu Fatimah Asri Mutmainah – Komisioner KND  

  1. Ibu Desy Andriani – Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan (KemenPPPA RI) 

  1. Para mitra kerja dan organisasi masyarakat sipil, 

  1. Para sahabat gerakan perempuan, generasi muda, rekan media, serta seluruh hadirin yang berbahagia. 

 

Hari ini, 15 Oktober 2026, Komnas Perempuan genap berusia 28 tahun. Kami ingin menggunakan hari ini untuk menengok kembali dari mana lembaga ini berasal dan untuk siapa ia bekerja. 

Komnas Perempuan lahir dari Tragedi Mei 1998, ketika perempuan, terutama perempuan etnis Tionghoa, mengalami kekerasan seksual, termasuk perkosaan, di tengah kerusuhan. Korban, keluarga, pendamping, dan gerakan perempuan menolak diam. Mereka mendesak negara mengakui apa yang terjadi dan bertanggung jawab. Desakan itulah yang melahirkan Keputusan Presiden Nomor 181 Tahun 1998. Mandat kami tumbuh dari keberanian korban, dan kepada merekalah kami pertama-tama bertanggung jawab. 

Dua puluh delapan tahun kemudian, kebenaran tentang Mei 1998 masih harus kita jaga dari upaya penyangkalan. Mengingat adalah bagian dari pemulihan. 

Hadirin sekalian, 

Perjuangan itu masih jauh dari selesai. CATAHU 2025 mencatat 376.529 kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan, naik 14,07 persen dan tertinggi dalam satu dekade. Hampir 90 persen terjadi di ranah personal: di rumah dan dalam relasi yang semestinya aman. Komnas Perempuan sendiri menerima 4.597 pengaduan, rata-rata 19 kasus setiap hari. Kekerasan seksual paling banyak diadukan. Kekerasan berbasis gender online naik menjadi 1.846 kasus, dan kami menerima delapan pengaduan femisida. 

Di balik setiap angka ada seorang perempuan yang memutuskan untuk bicara, sering kali dengan risiko besar. Lebih banyak lagi yang belum bisa melapor karena takut, karena stigma, atau karena sistem belum berpihak kepadanya. 

Kebutuhan sebesar itu belum diimbangi kelembagaan yang memadai. Setelah 28 tahun, dasar hukum Komnas Perempuan masih Peraturan Presiden, sementara anggaran dan sumber daya kami tidak tumbuh seiring beban kerja. Independensi bagi kami adalah syarat untuk tetap berdiri bersama korban, termasuk ketika pelakunya aparat atau pejabat negara. 

Karena itu, sejalan dengan Prinsip-Prinsip Paris, kami meminta Pemerintah dan DPR RI memperkuat Komnas Perempuan dalam hal kewenangan, dan independensinya, disertai anggaran yang memadai dan berkelanjutan. Ini adalah kewajiban negara kepada perempuan korban, bukan kepentingan lembaga. 

Hadirin yang berbahagia, 

Tahun ini kita mengangkat tema "Merawat Perjuangan, Menyambung Gerak Lintas Generasi untuk Keadilan dan Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan." 

Hampir 40 persen korban yang mengadu kepada kami sepanjang 2025, atau 1.453 orang, berusia 18 sampai 24 tahun. Pelajar dan mahasiswa adalah kelompok korban terbanyak, dengan kekerasan dalam pacaran dan kekerasan seksual berbasis elektronik sebagai persoalan utama. Respons kita tidak boleh berhenti pada imbauan agar mereka berhati-hati. Mereka membutuhkan pendidikan yang memadai, mekanisme pengaduan yang mudah dijangkau, dan pemulihan yang berpihak kepada korban. 

Orang muda juga penggerak. Mereka menjadi pendamping sebaya, peneliti, dan pembuat kampanye yang menjangkau ruang yang belum tersentuh generasi sebelumnya. Merawat perjuangan berarti memberi mereka ruang untuk memimpin dan ikut mengambil keputusan. 

Tahun ini juga menandai seratus tahun kelahiran Ibu Saparinah Sadli, pendiri sekaligus ketua pertama Komnas Perempuan. Generasinya mewariskan kepada kita sebuah lembaga. Tugas kita adalah memastikan generasi berikutnya mewarisi lembaga yang lebih kuat dan lebih independen dari yang kita terima. Untuk itu, dalam suasana HUT Komnas Perempuan ini, mohon berkenan mendoakan Prof. Saparinah Sadli yang hari ini tengah berbaring di rumah sakit agar diberi kekuatan dan kesabaran untuk segera sembuh dan berpulih kembali. Bagi teman2 yang muslim mohon berkenan membacakan doa dengan surat al fatihah.. 

Hadirin yang saya hormati, 

Kepada para korban dan penyintas: perjuangan kalian tidak dilupakan. Kepada para pendamping dan gerakan perempuan: terima kasih telah terus menjaga harapan dan menjaga Komnas Perempuan. Kepada teman-teman muda: selamat bergabung di barisan terdepan, karena kalian memiliki potensi yang besar menjaga keberlangsungan Komnas Perempuan ini. 

Selamat ulang tahun ke-28 Komnas Perempuan. 

Terima kasih,

Salam Indonesia yang Bhineka. 

Maria Ulfah Anshor 

Ketua Komnas Perempuan

accessibility_new
Menu Aksesibilitas