Pertukaran Selendang Persahabatan dan Boneka Mei di Napak Reformasi 2026: Merawat Ingatan, Menolak Penyangkalan Sejarah

today2 jam yang lalu
13
Mei-2026
24
0

Helai demi helai selendang persahabatan berpindah tangan dari perwakilan Perhimpunan Perempuan Indonesia Tionghoa (PINTI) kepada ibu-ibu korban Tragedi Mei 1998. Sebaliknya, boneka Mei 98 diberikan oleh para ibu korban kepada perwakilan PINTI. Pertukaran sederhana namun penuh makna itu berlangsung dalam kegiatan Napak Reformasi yang diselenggarakan oleh Komnas Perempuan di Jakarta pada Rabu (13/5/2026).

Di tengah suasana haru, prosesi tersebut menjadi simbol bahwa luka Mei 1998 tidak hanya dimiliki satu kelompok. Semua menjadi korban dari politik kebencian, kekerasan, dan politik adu domba yang pernah memecah bangsa ini.

Selendang persahabatan dibuat oleh PINTI sebagai upaya merawat ingatan publik terhadap Tragedi Mei 1998 sekaligus menjadi lambang pengukuhan persatuan bangsa di tengah perbedaan. Sementara boneka Mei menjadi simbol perjuangan ibu-ibu korban yang selama puluhan tahun mencari keadilan bagi anak-anak mereka yang meninggal dalam tragedi kebakaran dan kerusuhan Mei 1998.

Salah satu penyintas, Ruminah, ibu yang kehilangan anaknya dalam kebakaran Yogya Plaza Klender saat kerusuhan Mei 1998, menceritakan bagaimana massa kala itu dikerahkan untuk melakukan penjarahan di pusat perbelanjaan sebelum gedung kemudian dikunci dari luar dan dibakar. Tragedi serupa juga terjadi di sejumlah titik di Jakarta, termasuk pembakaran pusat-pusat perbelanjaan dan pertokoan yang menyebabkan banyak warga sipil terjebak dan meninggal dunia.

“Selama bertahun-tahun, para ibu korban juga berjuang menghapus stigma “penjarah” yang dilekatkan kepada anak-anak mereka. Mereka meyakini banyak korban merupakan warga miskin yang terseret situasi chaos dan menjadi korban dari kerusuhan yang lebih besar,” jelas Komisioner Chatarina Pancer Istiyani.

Di sisi lain, komunitas Tionghoa juga mengalami trauma mendalam akibat kekerasan dan diskriminasi yang memuncak dalam Tragedi Mei 1998. Mereka menjadi sasaran kekerasan, penjarahan, hingga perkosaan massal yang hingga kini masih meninggalkan luka sejarah bangsa.

Napak reformasi tahun ini secara khusus juga menjadi ruang untuk merawat ingatan atas perkosaan massal yang terjadi pada tragedi Mei 1998 yang hingga hari ini masih disangkal. Padahal, dokumentasi resmi pemerintah melalui laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) telah mencatat adanya perkosaan terhadap perempuan dalam rangkaian kerusuhan Mei 1998.

“Dalam Napak Reformasi tahun ini, kedua kelompok yang pernah sama-sama menjadi korban dipertemukan kembali untuk saling mendengar, bertukar harapan, dan menegaskan bahwa tragedi serupa tidak boleh terulang,” ujar Komisioner Komnas Perempuan Daden Sukendar.

Napak Reformasi sendiri rutin dilakukan Komnas Perempuan setiap tahun sebagai upaya merawat ingatan kolektif terkait pelanggaran HAM masa lalu sekaligus menjadi ruang edukasi publik tentang pentingnya menjaga persatuan dan kemanusiaan.

Perjalanan Napak Reformasi dimulai dari kantor Komnas Perempuan di Jakarta, yang juga menjadi salah satu situs penting Reformasi 1998. Komnas Perempuan kerap disebut sebagai “putri sulung reformasi” karena lembaga ini adalah lembaga negara pertama yang didirikan pasca reformasi, lahir sebagai bentuk tanggung jawab negara atas kekerasan terhadap perempuan, termasuk perkosaan massal yang menargetkan perempuan Indonesia-Tionghoa pada Tragedi Mei 1998.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Candra Naya, bangunan bersejarah peninggalan komunitas Tionghoa di Batavia yang menjadi simbol keberadaan dan jejak panjang masyarakat Tionghoa di Indonesia. Di lokasi ini, peserta diajak mendengarkan sejarah kedatangan komunitas Tionghoa, kontribusi mereka dalam pergerakan nasional dan kemerdekaan, serta berbagai bentuk diskriminasi yang pernah dialami akibat politik identitas.

Peserta juga diingatkan bagaimana setelah peristiwa 1965, ekspresi budaya Tionghoa sempat ditekan dan dilarang. Perayaan seperti Imlek dan Cap Go Meh tidak boleh dilakukan secara terbuka, penggunaan nama berbahasa Mandarin dilarang, hingga berbagai bentuk diskriminasi lain yang membuat identitas budaya Tionghoa tercerabut selama bertahun-tahun.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Monumen Trisakti untuk mengenang gugurnya mahasiswa dalam perjuangan reformasi. Dari monumen perlawanan, rombongan lalu menuju kawasan Jatinegara Kaum tempat pertukaran selendang dan boneka Mei dilakukan.

Napak Reformasi ditutup di TPU Pondok Ranggon, lokasi makam massal sejumlah korban Tragedi Mei 1998. 

“Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa sejarah kelam bangsa harus diingat dan diakui, bukan untuk meratapi dan meromantisasi penderitaan yang dialami korban, melainkan upaya agar kebencian dan kekerasan tidak lagi menemukan ruang di masa depan Indonesia,” pungkas Komisioner Yuni Asriyanti.

 

accessibility_new
Menu Aksesibilitas